A. SEJARAH GROUND ANCHOR
Soil nailing pertama kali diaplikasikan sebagai perkuatan untuk sebuah dinding penahan
tanah di Perancis (1961). Kemudian Dikembangkan oleh abcewicz (1964,1965), untuk
digunakan dalam galian terowongan,yang dikenal dengan “The New Austrian Tunneling
Method” (NATM). Dengan berkembangnya teknologi konstruksi, maka soil nailing pun
berkembang menjadi GROUND ANCHOR, Lalu sepanjang tahun 1970-1980, teknologi
pengembangan GROUND ANCHOR mengalami pengembangan dalam hal peningkatan
kapasitas kerjanya (Littlejohn 1970, Osternmayer 1974, Barley 1987).
B. DEFINISI GROUND ANCHOR
Ground anchor adalah Sistem pengangkuran adalah suatu sistem untuk menyalurkan
gaya tarik yang bekerja ke lapisan tanah/batuan pendukung. Sistem pengangkuran ini
utamanya terdiri atas fixed length, free length, dan kepala angkur (anchor head).
Sistem dinding penahan tanah yang bekerja memamfaatkan daya lekat dengan
tanah dan gaya tarik antar strand atau baja dengan kekuatan tinggi (high tensile
Strength)
Ground Anchor memiliki bagian penting yang mengirimkan gaya tarik (tensile force) dari
struktur utama ke tanah di sekitarnya. Kekuatan geser dari tanah digunakan untuk
melawan gaya tarik tersebut serta untuk mengikat struktur Ground Anchor pada tanah.
Struktur Ground Anchor biasanya terdiri dari baja tendon dengan kekuatan tinggi yang
dipasang pada sudut kemiringan (inklinasi) tertentu dan pada kedalaman yang diperlukan
untuk melawan beban yang ada.
C. APLIKASI GROUND ANCHOR
1. Struktur Dinding Penahan Tanah
2. Dinding Basement
3. Struktur Kantilever
4. Struktur Tunnel (Trowongan)
5. Struktur Shet Pile Baik Baja Atau Concrete
6. Struktur Pondasi Tower (Anti Backling)
7. Perkuatan Lereng Dengan Dack Slab
8. Tower Light Jembatan Gantung

D. JENIS – JENIS GROUND ANCHOR
Secara kegunaan nya ground anchor terbagi 2 yaitu :
1. Temporary Ground Angkur, yang dimana ground anchor berfungsi untuk
metode pekerjaan yang bersifat sementara, yang bila mana pekerjaan struktur
tersebut telah selesai, maka tendon dari ground anchor akan dilepaskan dari
struktur, umum nya dipergunakan di struktur basemant.
2. Permanent Ground Anchor, yang dimana ground anchor tersebut memang
dibutuhkan untuk perkuatan struktur tersebut yang ditinjau dari kondisi
struktur dan kondisi tanah exsisting.
E. STANDAR PEKERJAAN GROUND ANCHOR
Standar pekerjaan ground anchor berdasarkan SNI 8460:2017 secara garis besar adalah
sbb :
1. Rencana Kedalaman (Fixed length)
Fixed length harus terbenam di dalam lapisan tanah yang keras sehingga
dapat memberikan tahanan friksi yang besar. Jika terbenam pada tanah
pasir/pasiran dan tanah nonkohesif lainnya, disyaratkan tanah tersebut
mempunyai nilai N SPT 25, sedangkan jika terbenam pada tanah kohesif,
disyaratkan tanah tersebut mempunyai nilai N SPT 20.
2. Panjang minimum free length
Panjang minimum free length adalah 3 m untuk bar tendon dan 4,5 m untuk
strand tendon (FHWA-IF-99-015). Panjang free length aktual ditentukan
dengan mempertimbangkan kedalaman minimum fixed length dari
permukaan tanah dan stabilitas keseluruhan sistem struktur. Panjang
minimum fixed length adalah 3 m. Panjang maksimum fixed length adalah 13
m. Untuk panjang > 13 m dapat digunakan, dengan syarat dapat dibuktikan
dengan uji tarik (pullout test) dimana kapasitas dapat termobilisasi lebih
panjang.
3. Jarak Antar Titik Ground Anchor
Tipikal spasi horizontal adalah 2 m, sedangkan tipikal spasi vertikal adalah 3
m – 5 m. Penentuan level angkur tanah dilakukan sedemikian sehingga tidak
bertabrakan, dan gaya-gaya angkur yang dihasilkan dari analisis dinding,
kurang lebih sama antara tiap-tiap baris angkur tanah. Artinya jarak angkur
tanah semakin ke bawah semakin kecil, mengantisipasi tekanan tanah yang
mendekati bentuk segitiga yang besar di bawah.
4. Jenis Tendon
Tendon dapat dibuat dari baja batangan (steel bar), kawat (wire), dan strand.
Di antara ketiga jenis material tendon, strand paling banyak digunakan,
khususnya “low relaxation 7 wire strand” dengan diameter 1,27 cm (0,5 inci).
Gaya prategang sebesar 75 % – 100 % gaya angkur hasil analisis pada
prinsipnya harus diberikan agar tidak terjadi defleksi yang berlebihan.
5. Kepala Angkur
Kepala angkur umumnya terdiri atas stressing head dimana tendon dibaji dan
bearing plate yang meneruskan gaya tendon ke struktur. Stressing head harus
mampu memegang/membaji tendon yang ditarik hingga 80% kuat tarik
karakteristik tendon, tanpa merusak tendon tersebut, dan memungkinkan
dilakukannya penambahan dan pengurangan gaya tendon pada fase awal
penarikan.
6. Persyaratan Grouting Tendon
Grout angkur dibuat dari campuran semen (Ordinary Portland cement) dan air
dengan rasio air/semen (w/c ratio) berkisar antara 0,35 – 0,60. Untuk sistem
pengangkuran pada batuan atau lempung dengan permebilitas rendah
umumnya rasio air/semen (w/c ratio) 0,45.
Kuat tekan grout pada umur 28 hari, adalah:
a) kubus 10 cm x 10 cm x 10 cm, kuat tekan 40 N/mm2 ;
b) silinder 10 cm x 20 cm, kuat tekan 33 N/mm2.
F. PERALATAN KERJA GROUND ANCHOR
Peralatan khusus untuk pekerjaan ground anchor antara lain sbb :
1. Mesin Bor mekanis
2. Pompa Air
3. Grout Mixer
4. Grout Pump
5. Jack Stressing Tendon
6. Genset / Listrik kerja


G. KOMPONEN GROUND ANCHOR
1. Strand dia. 12,7mm (0,5 Inch)
Berfungsi sebagai tulangan tendon
2. Pipa polyethylene ( PE )
Berfunsi sebagai cover pelindung dari korosi
3. Anchor block / Anchor Head
Berfungsi meneruskan gaya tendon ke struktur
4. Spreader
Berfunsi memberi jarak antar strand (menempatkan atau mendistribusikan strand)
5. Spacer / Centerlizer
Berfungsi menyediakan space dengan dinding lubang untuk grouting material.
6. End of anchor
Berfungsi melindungi bottom end saat homing anchor (instalasi tendon) dan
mempermudah instalasi
7. Grease
Berfungsi Perlindungan strand terhadap korosi

H. TAHAPAN PEKERJAAN GROUND ANCHOR
Berikut secara garis besar tahapan-tahapan pekerjaan ground anchor sbb :
1. Pengeboran
Pengeboran dilakukan sesuai dengan desain kedalaman dan kemiringan lubang
tendon serta jarak titik-titik lay out tendon secara vertical dan horizontal
2. Pabrikasi tulangan tendon
Proses ini dilakukan untuk Menyusun aksesories tendon sedemikan rupa serta
memberi perlindungan tendon terhadap korosi sebelum tendon diinstal kedalam
lubang tendon
3. Install Tendon
Proses install tendon dilakukan setelah pengeboran dan perakitan tendon selesai.
4. Grouting tendon
Grouting tendon dilakukan setelah tulangan tendon berada didalam lobang
tendon, dan proses grouting ini mulai dari sisi ujung lubang tendon dan bertahap
sampai cairan grouting keluar dari lobang tendon.
5. Stressing tendon
Stressing tendon dan pemasangan aksesories anchor head dilakukan setelah
umur grouting cukup untuk menahan friksi Tarik yang terjadi pada bonded area
(Fixed length) pada saat proses stressing berlangsung umumnya usia grouting
antara 14 hr s.d 28 hr.
6. Pengujian ground anchor
Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah kekutan dari anchor tersebut
sudah sesuai dengan desain rencana.
I. KESIMPULAN
Ground anchor diperlukan sebagai perkuatan dinding penahan tanah (DPT) salah satunya
D-wall akibat tekanan tanah aktif, air tanah dan beban sekeliling D-wall bisa bersifat
sementara atau permanent, Ground anchor dipasang sesuai dengan kebutuhan untuk
tiap panel D-wall berbeda dan dilakukan bertahap sesuai sequence galian tanah.
Penerapan metode metoda kerja ground anchor untuk perkuatan dinding penahan tanah
(DPT) salah satunya D-wall pada daerah perkotaan yang padat akan bangunan ini dapat
dilakukan dengan memperhatikan beberapa aspek yang harus dilakukan agar pekerjaan
dapat berjalan dengan lancar. Adapun hal yang harus dilakukan adalah dengan
merencanakan segala hal sesuai dengan pertimbangan yang akurat, baik itu dari segi
teknis maupun administrative.
Copyright PT.Tiega Poetra Tepu
PT.Tiega Poetra Tepu ©2022